Masjid Saka Tunggal Cikakak Wangon Banyumas

15 Okt

Masjid Saka Tunggal terletak di desa Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas 30km ke arah Barat Daya dari Purwokerto. Saka Tunggal berarti memiliki satu pilar penyangga. Disekitar masjid terdapat makam seorang penyebar agama Islam yang bernama Kyai Mustolih.
Berdasarkan cerita nara sumber : KGPH Dipo Kusumo dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan Drs.Suwedi Moantana seorang peneliti Arkeolog Islam dari Puslit Arkenas Jakarta pada tanggal 29 Januari 2002 dijelaskan :
Suanan Panggung adalah salah seorang dari kelompok wali sanga yang merupakan murid Syech Siti Jenas. Sunan Panggung meninggal pada masa pemerintahan Sultan Trenggono di Demak Bintoro (1546-1548M). Menurut Serat Cabolek, Sunan Panggung dihukum dengan cara dibakar di atas kesalahannya menentang suatu syariat. Namun demikian dalam hukumannya tersebut ia tidak mati, bahkan saat itu mampu menulis suluk yang kemudian dikenal dengan sebutan Suluk Mangelangsumirang.
Sunan Panggung menurunkan anak bernama Pangeran Halas. Pangeran Halas menurunkan Temenggung Perampilan yang menurunkan Kyai Cikakak terus menurunkan Resayuda. Resayuda menurunkan Ngabehi Handaraka dan Ngabehi Handaraka menurunkan Mas Ayu Tejawati Istri Amangkurat IV yang menurunkan Hamengkuwana Raja-Raja Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kyai Cikakak yang merupakan keturunan ketiga Sunan Panggung tidak diketahui nama aslinya. Nama “Kyai Cikakak” diperkirakan merupakan sebutan karena ia bertempat tinggal di desa Cikakak yang kemudian mendirikan masjid dengan keunikan tiang utama tunggal (saka tunggal) yang masih lestari hingga saat ini.

Masjid saka tunggal dibangun di tempat suci “Agung Kuno” (agama yang berkembang sebelum masuknya agama Hindu Budha) yang dapat dibuktikan disekitar masjid terdapat sebuah batu menhir yang merupakan tempat untuk kegiatan ritual. “Agamaa Kuno” dibangun 1522 M.
Keunikan lain disekitar masjid terdapat ratusan ekor kera yang jinak dan bersahabat.

monyet_cikakak
Kera/monyet ekor panjang ini perlu dilestarikan keberadaannya, sekalipun pada saat musim kemarau masyarakat sedikit resah karena kekurangan sumber pakan. Disamping itu juga monyet tersebut merasakan kemudahan memperoleh makanan dari pengunjung. Diharapkan masyarakat peduli keberadaan monyet tersebut karena menambah keunikan obyek wisata Masjid Saka Tunggal Cikakak Wangon.

Saat ini Masjid Saka Tunggal belum kehilangan sama sekali wajah aslinya (hanya dinding masjid telah diganti dengan tembok).
Salah satu tampilan asli masjid ini yang belum hilang adlah saka tunggal di tengah bangunan masjid yang dibuat dari galih kayu jati berukir motif bunga warna warni. Bagian pangkal berdiameter 35cm. Saka tunggal terdapat empat helai sayap dari kayu yang melambangkan “papat kiblat lima pancer” (empat mata angin dan satu pusat).

Keaslian lain yang masih terpelihara di masjid tersebut adalah ornamen di ruang utama khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar ini banyak ditemukan pada bangunan kuno era Singasari dan Majapahit. Atap ijuk mengingatkan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali.

Keanekaragaman nilai budaya merupakan warisan yang tidak ternilai yang harus kita lestarikan. Penelusuran nilai-nilai budaya seperti ini sangat penting pada era sekarang untuk memperkaya khasanah ilmu sebagai tuntunan perilaku pada keberadaan umat manusia yang telah terlahir dari sebuah peradaban nenek moyang kita yang dibuktikan dengan peninggalan budaya.
Kemajuan teknologi jangan menghilangkan nilai-nilai luhur kebesaran para pendahulu kita.

maskusno-cikakak
Sumber : Peninggalan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisi Di Kabupaten Banyumas ( Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas 2009).

%d blogger menyukai ini: