Situs Pesan Moral Nenek Moyang

8 Agu

SITUS & TEMPAT KERAMAT
PESAN MORAL NENEK MOYANG KITA
DALAM MELESTARIKAN ALAM

Menelusuri sebuah peninggalan, situs, tempat yang dikeramatkan dan tempat bersejarah lainnya merupakan perjalanan menarik bila kita lakukan. Keberadaan tempat-tempat tersebut merupakan ekosistem terjaga dan dilindungan oleh tokoh masyarakat atau pihak instansi terkait. Merupakan hal yang menakjubkan dan perlu dikaji keberadaanya oleh kita sebagai pewaris nenek moyang kita yang berpandangan jauh kedepan akan kelestarian budaya dan aneka ragam tumbuhan/pohon.
Adanya larangan (ora ilok=jawa) untuk menebang pohon di kawasan situs atau tempat yang dikeramatkan merupakan rambu-rambu pesan nenek moyang yang tidak tertulis tapi cukup efektif menjadi pegangan masyarakat sekitar. Kekuatan pesan yang memberikan arti bahwa pentingnya menjaga keberadaan pohon yang sangat berguna dan bermanfaat bagi kehidupan kita.
Adanya kebijakan pemerintah dalam menggerakan program menanam satu pohon setiap orang harus kita dukung dan dilaksanakan guna mengembalikan hijaunya bumi pertiwi, bumi nusantara yang terkenal akan rimbanya. Hamparan hutan belantara yang mulai terkikis karena meningkatnya kebutuhan manusia baik lahan, jenis tanaman lain dan kebutuhan kayu merupakan hal yang perlu kita waspadai akan kelangsungan lestarinya hutan kita tercinta.
Kita melihat beberapa tempat yang masih utuh sebagai ekosistem yang dibangun oleh nenek moyang kita dan tetap lestari hingga saat ini.

Situs Baturagung
maskusno-banyumas (19)
Lokasi Desa Baseh Kecamatan Kedungbanteng Banyumas merupakan salah satu cagar budaya yang berada di tengah desa seluas 3400m3, sangat terjaga dan terpelihara. Beraneka ragam jenis tanaman langka yang sudah tua. Hal ini membuktikan bahwa model kelestarian akan alam yang dibuat oleh nenek moyang sangat berhasil hingga saat ini. Padahal menurut penelitian merupakan peninggalan pra sejarah.

Batur Golek
DSC00280
Merupakan situs yang dahulunya merupakan cikal bakal orang pertama yang mendiami daerah ini yaitu gerumbul Windusari desa Kalisalak Kecamatan Kedungbanteng Kab.Banyumas. pohon yang terdapat disini tidak ada yang berani menebang. Ada rambu-rambu yang secara turun temurun dipercaya oleh masyarakat sekitar. Sebagai penyuluh kehutanan swadaya terus menggali dan mempotensikan berbagai hal yang menuju kelestarian hutan, baik di dalam kawasan maupun diluar kawasan hutan negara.

Situs Batur Bedil

Keberadaannya di dalam kawasan hutan Negara di pangkuan LMDH Sido Makmur desa Windujaya Kec.Kedungbanteng Kab.Banyumas. Merupakan tempat yang dianggap mempunyai nilai sejarah dan diyakini oleh masyarakat sekitar harus dijaga keutuhannya. Ini menandakan bahwa keutuhan suatu ekosistem yang dibangun oleh pendahulu kita perlu kita lestarikan. Karena berdampak positif dalam meningkatankan nilai budaya atau aneka ragam hayati yang ada di kawasan tersebut.

Ketika kita memahami dan menghayati ketiga contoh tersebut di atas, ada kesimpulan yang patut kita tiru. Melestarikan aneka ragam jenis tumbuhan dan jangan menebang pohon. Berbagai hal dapat dipetik untuk kita sampaikan kepada generasi berikut, agar menanam itu penting tanpa melihat apapun jenisnya, juga menjaga agar pohon tetap tumbuh subur.

Banyak yang kita lihat di setiap daerah yang mempunyai tempat-tempat yang punya sejarah biasanya ada pohon tumbuh subur tanpa diganggu oleh masyarakat sekitar. Yang menjadi pertanyaan, apakah bumi ini akan dijadikan tempat yang dikeramatkan agar orang tidak mudah menebang pohon ?.
Pendidikan sejak dini untuk menjadikan bahwa menanam adalah penting adalah tugas kita sebagai generasi yang telah memahami arti sebuah pohon. Pendalaman pihak-pihak terkait atau yang telah menata hati dalam memahami kewajiban kita sebagai umat manusia dalam menyelamatkan bumi ini demi anak cucu. Kita terus berpacu untuk menanam, menjaga dan melestarikan aneka ragam hayati. Ketika saat ini tidak pernah mencoba untuk mengerti hal ini, bisa jadi anak cucu kita tidak pernah mengerti satu pohon pun, bahkan tidak pernah minum air jernih dari mata air yang dihasilkan dari alam.

Penulis masih berkeyakinan bahwa masih ada yang belum pernah sekalipun menanam satu pohonpun. Kita hanya bisa berdoa agar mereka diberi petunjuk untuk saat ini mulai melakukan gerakan tanam. Atau bisa saja yang selama ini berteriak ayo menanam, itu hanya teriakan saja. Dengan rasa hormat dan penuh harapan manusia di bumi pertiwi ini telah melakukan penanaman. Ini dalah harapan kita sebagai warga yang bijak bukan hanya taat membayar pajak, tetapi juga turut serta pada tanah kita berpijak jangan sampai alam ini dirusak.

Sadar atau tidak kita mulai terkikis akan kewajiban kita sebagai umat yang semestinya mempunyai amanah untuk menjaga alam ini belum bisa membuktikannya.
Gerakan menanam yang dicanangkan pemerintah “one man one tree” tahun 2009 faktor keberhasilan terukur dari alokasi tanaman yang telah direaliasikan secara nyata oleh setiap warga negara yang baik. Pada tahun 2010 ini sebagai gerakan OBIT yang berarti setiap warga menanam minimal 5 (lima) pohon.
Setiap manusia Indonesia menanam 5(lima) pohon yang dibeli atau menyemai biji, bukan bibit pohon dari pemberian pemerintah. Kita menyisihkan hasil pendapatan kita untuk melakukan penanaman. Kalau harga satu pohon seribu rupiah, berarti hanya lima ribu rupiah akan turut mensukseskan kembalinya HIJAU INDONESIAKU.

Ini juga contoh lain, sebuah makam ditengah sawah dimana tertanam pepohonan. Dan hal membuktikan secara naluri masyarakat bahwa tanaman di sekitar tempat bersejarah atau dikeramatkan seakan suatu hal yang harus ada. Sikap seperti ini merupakan tauladan baik kita dan untuk semua tanpa memberdakan keberadaannya. Menanam adalah penting dan kewajiban bagi umat manusia.

Ketika sering terdengar suara lantang menggelorakan mengajak untuk menanam, apakah bisa dibuktikan setiap masyarakat telah melakukan ?
Kita harus melihat balik pada diri masing-masing dan sadar akan kebutuhan kita akan oksigen, air, udara segar, tempat berteduh, dan masih banyak manfaatnya dari sebuah gerakan tanam pohon. Merupakan kebutuhan pokok umat manusia. Bukan membayar yang dinilai dengan uang, tetapi lakukan menanam sendiri. Betapa indahnya kebersamaan pada pola perilaku bukan menyuruh tetapi melakukan. Bukan membayar tetapi melakukan, bukan berteriak tetapi tutup mulut dan melakukan penanaman dimana kita berpijak.

Kembali kepada pesan-pesan moral nenek moyang kita, para pendahulu kita, dimana pada setiap halaman kantor pendopo “alun-alun” terdapat pohon beringin, pohon pakar/trembesi, dan jenis pohon yang tumbuh rindang sering kita jumpai disana. Pemandangan ini merupakan contoh sebuah budaya yang perlu kita ikuti, bukan hanya di halaman kantor penting tetapi di halaman rumah kita atau pekarangan, kita tanam dengan jenis tanaman yang kita sukai, kita cintai sebagai symbol pribadi pemilik rumah.
Disana pastikan akan hadir burung-burung yang bebas terbang diantara ranting dan dahan. Bukan terbalik tak ada pohon disekitar rumah kita, tetapi yang ada burung-burung di dalam sangkar. Biarkan burung bebas merdeka di alam sekitar kita.
Sungguh indahnya… alam ini ketika pemahaman alam yang tertanam sejak dini, dicontohkan oleh perilaku orangtua, para pemimpin kita, para tokoh masyarakat, tokoh agama dan cendekiawan atau ahli pikir untuk bersama kibarkan daun hijau setiap saat tanpa dikomando oleh kita, tetapi kibasan riang memberikan sebuah arti hidup dan kehidupan buat kita semua.

Akhirnya….tercipta sebuah kedamaian seperti tergambar pada pesan moral nenek moyang pada berbagai peninggalan sejarah yang masih terdapat di sekitar kita, pada sejarah yang tercatat pada dokumen bahwa kesuburan alam di bumi pertiwi bukan hanya cerita yang dirindukan, tetapi kita mencoba mengembalikan nuansa alam mendekati cerita-cerita akan kekayaan aneka hayati.

Kusno PKSM Banyumas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: