Pohon Kelapa

7 Jun

TANAH AIR KU INDONESIA…
NEGERI ELOK AMAT KU CINTA….
TANAH TUMPAH DARAHKU YANG MULIA…
YANG KUPUJA SPANJANG MASA…
TANAH AIR KU AMAN DAN MAKMUR…
PULAU KELAPA NAN AMAT SUBUR…
PULAU MELATI PUJAAN BANGSA ….SEJAK DULU KALA….
MELAMBAI-LAMBAI….NYIUR DI PANTAI….
BERBISIK-BISIK….

( mengajak kita menanam dan menjaga pohon kelapa agar tetap tegar )

(Seandainya makna pulau Kelapa Nan Amat Subur) bisa diaktualisasikan, dinyatakan sebagai gerakan kita bukan hal yang mustahil berdampak positif. Banyak bermanfaat yang terkandung di dalamnya:
1. Suksesnya gerakan sadar tanam pohon sejak dini.
2. Kebutuhan gula kelapa yang mempunyai pasar cukup baik sebagai salah satu bahan baku kecap,
aneka pelengkap makanan, dll.
3. Kopra
4. Pada waktu tertentu pohonnya dapat dimanfaat bahan bangunan, kerajinan dll.
5. Untuk daerah pantai akan sangat bermanfaat.

Sebuah karya cipta putra bangsa yang sangat menakjubkan apabila kita hayati dan dikaji. Para pendahulu kita melihat jauh kedepan dalam memperhatikan, mempertahankan, dan melestarikan keanekaragaman hayati sebagai warisan untuk anak cucu.
Ketika kita jalan ditepi pantai sering menjumpai pohon menjulang tinggi, daun diterpa angin laut yang seakan melambaikan tangannya mengajak kita untuk saling menyapa dan mengajak untuk bersatu. Ketika kita berkunjung dikampung-kampung tumbuh berjajar dikebun milik masyarakyat. Sang petani naik mengambil buah kelapa untuk diolah menjadi kopra, dibuat santan untuk masakan khas di daerahnya, diambil buah muda sebagai obat juga untuk pelepas dahaga serta es buah.
Ditempat lain diambil niranya sebagai bahan baku gula kelapa yang sangat dibutuhkan kita untuk kebutuhan sehari-hari seperti bumbu masak, membuat kecap dan masih banyak lagi fungsinya.

Pohon kelapa yang merupakan komoditi strategis dengan berbagai macam kelebihan yang dimiliki. Dari berbagai sudut pandang, kita dapat mengambil banyak pelajaran dari pohon kelapa. Banyak kekuatan besar terkandung didalamnya. Pemanfaatannya tak ada yang tersisa dari pangkal pohon hingga ujung daunnya.

Kenapa semboyan LIDI DIIKAT TAK AKAN MUDAH DIPATAHKAN (tidak menggunakan bahan lainnya), merupakan simbol keutuhan dan persatuan yang sudah tidak asing lagi bagi kita.

Tunas Kelapa sebagai lambang Pramuka. Kita berandai-andai di suruh penjuru nusantara tercinta ini setiap anggota pramuka melakukan gerakan nyata berupa menanam satu pohon kelapa (tunas kelapa) sebagai symbol kekuatan dan kelestarian. Dalam Dasa Darma: Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia sebagai pengejawantahan sang pandu. Kekuatan ini merupakan barometer yang akan mewarisi citra pramuka di bumi pertiwi yang kaya akan keanekaragaman hayati yang secara terus menerus berkesinambungan sebagai program rutin.

Apabila hal ini dapat dilakukan pada setiap elemen yang dapat tercermin pada institusinya. Buat apa TONGKAT KAYU JADI TANAMAN hanya rangkaian nyanyian tak berarti. Sangat ironis sekali ketika kita banyak wawasan di nusantara ini tidak diterjemahkan pada perilaku pribadi ini.

Pembentukan pribadi yang tangguh pada pembangunan bangsa di segala bidang adalah perilaku nyata bukan sebatas teori. Hal ini akan melatih jiwa dalam gerak dan peduli. Membeli satu buah kelapa atau tunas kelapa yang berarti tingkat peduli terdidik dan diharapkan terlatih sejak dini pada watak cinta lingkungan dan sesama.
Ketika kita mengkalkulasi berapa jumlah pembelian pulsa hanya untuk SMS sesama teman yang kurang berarti. Ketika sesaat sisihkan sebagian untuk membeli sebuah tunas kelapa dan ditanam, sungguh sangat besar manfaatnya. Satu pohon kelapa diprediksi ketika mulai berbuah akan menghasilkan 60 butir per tahun. Dapat dibayangkan apabila kita hitung berapa jumlah pramuka di tanah air kita tercinta ini menanam masing-masing satu pohon dan setiap pohon berbuah. LUAR BIASA HASILNYA.
Kebijakan ini dapat dianalisa dan dipelajari bersama sebagai warga yang cinta tanah air Indonesia. Ketika kita ingat bahwa bangsa ini sebagian besar adalah petani yang berdomisili di daerah pedesaan dan pesisir pantai yang tingkat ekonominya masih perlu ada perhatian. Dilihat lebih kecil lagi bahwa masyarakat desa kita lebih banyak adalah masyarakat desa hutan. Untuk hal itulah sebagai warga masyarakat tanpa melihat perbedaan kota dan desa untuk saling memperhatikan dan peduli berupa mengembalikan suburnya pulau kelapa di tanah air ini.
Semua menikmati apa yang terkandung di pohon kelapa itu, tapi apakah semua ikut menanamnya ?
Ayo kita mulai saat ini turut serta membangun dengan bermodalkan satu buah TUNAS KELAPA untuk ditanam dibumi pertiwi dimana kita berpijak. SUKSES….

Kusno PKSM Banyumas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: